Buku Non Teknik
Peran Tokoh Nasionalis Islam dalam Sidang BPUPKI Tahun 1945 (Studi Historis)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Latar belakang
nasionalisme Islam di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia) berakar dari transformasi pergerakan nasional awal
abad ke-20 yang dipengaruhi oleh gerakan Pan-Islamisme global, serta
lahirnya organisasi modern seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan
Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, Persatuan Tarbiyah Islamiyyah, dan Al-
Irsyad Al-Islamiyah yang kemudian memanfaatkan ruang dialektika bentukan
Jepang untuk memperjuangkan kedaulatan yaitu BPUPKI. 2) Peran tokoh
nasionalis Islam, seperti K.H. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Haji Agus
Salim, Abikusno Cokrosuyoso, Abdul Kahar Muzakir, K.H. Ahmad Sanusi, Dr.
Sukiman Wiryosanjoyo, dan Mohammad Natsir sangat signifikan dalam proses
perumusan dasar negara melalui gagasan dan argumentasi mereka yang
mengintegrasikan nilai syariat dan moralitas Islam ke dalam sistem
kenegaraan modern, salah satunya melalui perumusan Piagam Jakarta
bersama Panitia Sembilan. 3) Pengaruh nasionalis Islam mencapai puncaknya
pada sikap kenegaraan tokoh nasionalis Islam yang akomodatif demi
persatuan bangsa, mereka dengan ikhlas menyetujui penghapusan tujuh kata
dalam Piagam Jakarta pada 18 Agustus 1945 demi mengintegrasikan
Indonesia Timur agar tidak memisahkan diri, tujuh kata tersebut yaitu
“Ketuhanan dengan kewajiiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-
pemeluknya” sekaligus menjadi sila pertama Pancasila yang kemudian
berubah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" sebagai kompromi teologis yang
selaras dengan konsep Tauhid sekaligus menjadi payung inklusif spiritual bagi
keberagaman Indonesia.
Tidak tersedia versi lain